Kamis, 16 Maret 2017

Integrasi al-Qur'an dan Ilmu Sosial (P-IPS D Semester Genap 2016/2017)




Ilmu Sosial Profetik
 
Winda rahmatu laili, Fanny rafida akhmad, dan Dwi mulyo utomo
Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas D Angkatan 2015
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: windalely1345@gmail.com

ABSTRAK
Kuntowijoyo (1943-2005) was an Indonesian Muslim thinker who coined the prophetic thoughts on the social sciences. Social sciences Kuntowijoyo prophetic in thinking this is a social science discipline that is an alternative in the middle of the development of a variety of science tends to be positivist. In addition, the values in the social sciences have adopted a prophetic Kuntowijoyo besumber teachings of the Islamic religion (ie the Qur'an and Hadith), which is in use as the foundation humanization process transformation, liberation. So that it becomes a knowledge that has the values of divinity, which is based on faith and the unity of Allah SWT. The type of this research is the research library is research literature. The primary sources are the books or writings containing Kuntowijoyo thinking. While the secondary source is the books or writings that complement and support in this study
ABSTRAK
Kuntowijoyo (1943-2005) adalah seorang pemikir muslim Indonesia yang mencetuskan pemikirannya mengenai ilmu sosial profetik. Ilmu sosial profetik dalam pemikiran Kuntowijoyo ini adalah suatu disiplin ilmu sosial yang merupakan alternative di tengah-tengah perkembangan berbagai ilmu pengetahuan yang cendrung bersifat positivis. Selain itu, nilai-nilai dalam ilmu sosial profetik Kuntowijoyo ini mengadopsi suatu ajaran yang besumber dari agama islam (yakni Al Qur’an dan Hadist), yang di jadikan sebagai dasar pijakan proses tranformasi humanisasi, liberasi. Sehingga ia menjadi suatu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai keilahian, yang didasarkan pada keimanan dan tauhid kepada Allah SWT. Adapaun jenis penelitian ini adalah library research yaitu penelitian kepustakaan.Sumber primernya adalah buku-buku ataupun tulisan yang memuat pemikiran Kuntowijoyo.Sementara sumber sekundernya adalah buku-buku atau tulisan yang menjadi pelengkap serta pendukung dalam penelitian ini.
Keyword: ilmu sosial profetik dan Al Qur’an

A.    Pendahuluan

            Sejarah pertumbuhan gerakan pembaruan Islam di Indonesia sudah berjalan hampir satuabad. Selama rentang waktu itu banyak terjadi perubahan, baik yang bersifat sosial, politik, ekonomi maupun perubahan sikap dan pandangan hidup umat Islam yang disebabkan olehadanya perubahan-perubahan masa dan situasi politik yang penuh gejolak dan pergolakan.Pola, sasaran dan unsur-unsur gerakan pembaruan tersebut sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ini. Semangat dan kecenderungannya pun menjadi berbeda dilihat daritingkat pemahaman terhadap corak perubahan yang terjadi, ruang lingkup dan batas-batasyang memungkinkan ditolelirnya perubahan dan pembaharuan.Karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba membahas unsur-unsur gerakan pembaruan tersebut, lewat pemikiran Kuntowijoyo yang tertuang dalam beberapa karya dan tulisannya di berbagai tempat, terutama yang berkaitan dengan gagasan paradigma Islam dan transformasi sosialnya.
            Kuntowijoyo mengalami kegelisahan intelektual melihat fenomena keberagamaan umat Islam di Indonesia yang masih di belenggu oleh berbagai mitos sebagai akibat dari proses agrarisasi masuknya Islam ke Indonesia. Selain itu, dibukanya kran industrialisasi-informasi, semakin mengarah pada sekularisasi agama.Untuk itulah kemudian Kuntowijoyo melontarkan gagasannya mengenai Paradigma Islam. Sebuah tawaran konsep mendekati dan memahami agama Islam dengan menggunakan pendekatan historis-sosiologis yang darinya akan melahirkan lima program re-interpretasi. Kelima program dimaksud adalah pengembangan penafsiran dari individual menjadi sosial struktural, mengubah Islam normatif menjadi teoritis, mengubah pemahaman a historis menjadi historis, reorientasi berfikir dari subjektif ke arah objektif, dan mereformulasi wahyu yang bersifat umum menjadi khusus.
B.   Posisi ilmu Sosial dan Al quran
Ada perkembangan penting dalam sejarah intelektual Islam Indonesia dalam dasawarsa 1980-an. Ahmad Syafi’i Ma’arif menyebut pemikiran Islam Kontemporer sebagai senuah pergumulan dan kerja kreatif untuk menciptakan tradisi islam baru setelah umat islam mengalami kekalahan dalam perjuangan politik. Tradisi baru itu dikatakannya sebagai lahan yang justru lebih strategis, mendasar dan berorientasi ke depan. [1]
Alquran sebagai kitab suci bagi umat islam, juga merupakan kitab yang memberikan pedoman untuk hidup secara individu dengan individu lain, maupun secara bersama maupun sosial bagi umat manusia. Kitab ini juga sekaligus memberikan petunjuk dan ajaran dalam membangun hubungan antar individu, masyarakat dengan Tuhannya. [2]
Partisipasi dalam gerakan intelektual itu rupanya sunnguh meluas. Banyak buku yang ditulis oleh para pemikir yang hanya memiliki latar belakang minimal mengenai disiplin ilmu yang ditulisnya, seperti misalnya seorang penyandang gelar sarjana ekonomi menulis tentang sosiologi islam, seorang guru menulis tentang psikologi. Apa yang disebut-sebut ilmu sosial Islam menjadi sungguh terbuka, baik bagi profesional maupun bagi ilmuwan di bidang lain.
1.      Konteks Sosial Historis
Pusat pemikiran Islam yang menjadi rujukan seluruh Dunia Islam adalah Timur Tengah saja.Keadaan ini berubah dengan mengali       rnya sarjana-sarjana Islam dari Timur Tengah dan anak Benua India ke Dunia Barat.Dengan perubahan itu, banyak literatur Islam yang semula di tulis dalam bahasa Arab mulai diterjemahkan atau ditulis langsung dalam bahasa Inggris.Konteks nasional perkembangan pemikiran Islam kontemporer dapat dilihat dari berbagai segi.
Pertama, pada dasawarsa 1980-an sudah terjadi perubahan kultural di lingkungan umat Islam, perubahan itu adalah menghilangnya jarak kultural antara apa yang disebut sebagai santri.
Kedua, isu nasional yang paling menonjol sejak 1970-an ialah pembangunan.Sejak 1969, pemerintah melaksanakan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) untuk pertama kalinya.Masyarakat juga mulai membangun pesantren.
Ketiga, pancasila juga merupakan kekuatan yang mendorong pemikiran beberapa cendekiawan.Banyak pemikir yang memasukkan nilai Agama dalam Pancasila misalnya.Itu artinya Agama sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan.
2.      Inetgrasi Ilmu Sosial dan Agama
Usaha untuk memberikan dasar epistimologis terhadap pertemuan antara nilai dan norma agama dengan ilmu sosial sudah dikerjakan oleh Hidajat Nataatmadja. Dikatakannya bahwa tingkat kebenaran ilmu-ilmu tidak pasti, tetapi relatif.Agama dalam hal ini jauh lebih pasti daripada ilmu karena tidak mengenal relativisme moral.Apa yang pasti harus berada di atas yang tidak pasti. Artinya agama di atas ilmu, dan ilmu harus merupakan penurunan dari agama.Ia ingin membalikkan kenyataan yang ada yang meletakkan ilmu di atas agama. Beliau mengajak untuk menegakkan ilmu yang lebih beragama dan manusiawi, ilmu yang sumbernya adalah nilai.Ilmu itu disebutnya sebagai Ilmu Humanika.[3]
3.      Konsep Integrasi Keilmuan
Secara leksikal, term ‘integrasi’ berasal dari kata  Inggris  integration  dari  kata  kerja integrate  yang  berarti  menggabungkan, menyatupadukan,  mempersatukan,  ataumengintegrasikan.Imam  Suprayogo  juga mendefinisikan  integrasi  keilmuan  sebagai pemosisian  Alquran  dan  Hadis  sebagai  grand theory  bagi  pengetahuan.Dengan  begitu, argumentasi  naqli  tersebut  dapat  terpadukan dengan temuan ilmu.
Pada  dasarnya,  Alquran  tidak  mengenal prinsip  dikotomi  antara  ilmu  agama  ataupun ilmu  non-agama.  Bahkan,  Alquran  sangat menganjurkan agar setiap orang memerhatikan ayat-ayat  qawliyah  (Alquran),  di  samping menggunakan  akal  dalam  memahaminya.[4]
4.      Relasi Ilmu-Ilmu Sosial dan Hadis Nabi
Adanya  penyatuan  ilmu-ilmu  sosial  –begitu  pula  ilmuilmu  alam-  dan  teks  keagamaan  pada  dasarnya  diharapkan  dapat menciptakan  solusi  bagi  problem  kekinian  sekaligus  menyelesaikan masalah-masalah  yang  mungkin  menghinggapi  bunyi-bunyi  teks yang  bersangkutan.Teks  al-Qur’an  maupun  hadis,  meskipun  berasal dari  Tuhan  dan  Nabi  Muhammad  sebagai  pembuat  syariat,tetapi patut  disadari  bahwaaudensinya  adalah  manusia,  sehingga  manusia mempunyai peran dalamproses interpretasi kedua sumber ajaran itu. Dengan demikian, paradigma yang diusung di sini bukan lagi sekedar teosentris,  yaitu  pengetahuan  yang  berasal  pada  Tuhan  semata, tetapi  lebih  padaparadigma  teo-antroposentris yang  merupakan penggabungan dua dimensi pengetahuan yang berbeda, yaitu dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.[5]
Dalam konteks fikih, al-Qur‟an harus diletakkan sebagai basis etis bagi rumusan-rumusan hukum yang dibangun oleh para ahli hukum Islam.Artinya, alQur‟an yang mengisi ruang aksiologis pengembangan keilmuan. Di sini nilai-nilai  kemanusiaan,  toleransi,  keadilan,  kebenaran,  dan  kejujuran harus  dijunjung  tinggi  sebagai  pondasi  etis  bagi  seluruh  aktivitas keilmuan. 
Di  titik  ini,  seorang  ilmuwan  Muslim  bisa  berdiskusi  secara hangat dan akrab dengan seorang humanis-sekuler-ateis tanpa dirisaukan dengan  keyakinan  ketuhanan  masing-masing,karena  sebenarnya  tidak ada pertentangan yang tajam antara metode ilmiah dan ideologi tertentu. Oleh  sebab  itu,  sangatlah  mungkin  bagi  seorang  pakar untuk berpijak pada sikap ilmiah sekaligus ideologis.
5.      Posisi  Filsafat  dan  Teori  Sosial  dalam  Epistemologi  Tafsir  Ayat Ayat Sosial
Agar  sesuai  dengan  tuntutan  zamannya,  tafsir  sosial  dapat memanfaatkan ilmu-ilmu sosial yang berkembang dewasa ini termasuk di dalamnya  filsafat  sosial.  Sebuah  tawaran  yang  perlu  dibuat sistematisasinya  sehingga  akan  lebih  mampu  menjawab  problem  sosial atau  mendialogkan  fenomena  sosial  secara  lebih  memadai  dengan menggunakan tafsir ayat-ayat sosial. Sebuah tafsir sosial yang berangkat dari  konteks  menuju  teks.  Perkembangan  tafsir  sosial  ini,  kemudian dirumuskan dalam sebuah sistematika yang mengintegrasikan paradigma ilmu  pengetahuan    sebagai  landasan  pemilahan  ayat    dengan paradigma tafsir al-Qur‟an sebagai proses memahami ayat al-Qur’an.[6]
Hal  itu  menunjukan  pentingnya  melakukan  kolaborasi  dalam proses  penafsiran  al-Qur’an,  dan  pada  ayat-ayat  sosial,  untuk  lebih dituntut  adanya  kerjasama  antara  sosiolog  dengan  ulama  ahli  tafsir. Dalam  bahasa  lain  diperlukan  dua  paradigma  sekaligus  jika  hendak menafsirkan al-Qur‟an dengan ilmu pengetahuan atau teori ilmiah, yaitu paradigma  ilmu  pengetahuan  sosial  yang  terkait  dengan  ayat  dan paradigma teori penafsiran ayat al-Qur’an („Ulûm  al-Qur’ân). Sesuatu yang belum  maksimal  dilakukan  para  penulis  tafsir  al-Qur’an,  dalam  arti penafsirannya  masih  bersifat  anjuran  umum  dan  belum  bisa  menjadi jawaban serta solusi konkret bagi problem sosial mutakhir yang terjadi di masyarakat.
C. Biografi Kuntowijoyo
               Kuntowijoyo, Sosok sejarahwan terkemuka yang juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan yang lahir di Yogyakarta, 18 September 1943 Doktor ilmu sejarah dari Universitas Columbia ini juga begitu konsisten dalam melahirkan karya-karya berbobot. Juga kepiawaiannya dalam memanfaatkan dua medium ungkap sastra (puisi, cerpen, drama, novel) dan nonsastra (esai-esai dalam bidang sejarah, budaya, politik) senantiasa membuat iri cendekiawan lain.[7]
Banyak karya yang di hasilkannya berupa puisi, cerpen dan novel yang telah mendapat penghargaan. Kemudian puluhan tulisan dan makalahnya baik yang sudah terbukukan, seperti paradigma Islam: interpretasi untuk aksi(1991), maupun yang belum, serta buku-bukunya mengenai budaya, masyarakat dan sejara, seperti budaya dan masyarakat (1987) atau metodologi sejarah (1994) adalah bukti nyata lain.
Setelah sembuh dari sakit yang dideritannya, dan sudah banyak yang tahu, kesembuhan mas kunto, demikian kami biasa memanggilnya- dari penyakit meningo encephalitis (infeksi otak) sejak 6 Januari 1992 itu membutuhkan perjuangan yang panjang, keyakinan yang dalam, serta kesabaran yang luar biasa. Untunglah mas Kunto punya mbak Ning (Ny.Dra.Susilaningsih Kuntowijoyo, M.A), dan anak-anak tersayang dan penuh cinta kasih terus-menerus merawat dan mengusahakan kesembuhannya. Juga teman-teman, kerabat, dan handaitolan yang selalu terus mengirim do’a agar sembuh dari penyakit, dan jangan lupa getaran bibir mas Kunto yang terus mengucapkan Asmaul husna seperti Ya Khaliq, Ya Bari’, Ya Musshawwir, sebagai mana yang disarankan budayawan Emha Ainun Nadjib, rupanya didengar oleh Al Khaliq. Syukur Alhamdulillah, Tuhan Yang Maha adil akhirnya memberikan kesembuhan untuk mas Kunto.[8]
Setelah dua tahun absen, sejak 1994 mas Kunto kembali pada duniannyasebagai seorang intelektual.Sebuah dunia yang hanya digeluti oleh “orang-orang yang berani”.Sebab/untuk menjadi intelektual, kata mas Kunto mengutip ucapan gurunya Prof.Dr. Sartono Kartodirdjo “orang harus berani tadak berkuasa, berani tidak berpangkat, dan berani tidak berharta. Dengan kata lain, yang bersangkutan harus berani hidup sederhana. Dan saya memberikan kesaksian terhadap kesederhanaan hidup mas Kunto dan keluarga.[9]
Bagi mereka yang akrab dengan karya-karya Kuntowojoyo, benang merah dari pemikirannya amat jelas.Ia adlah ilmuwan sosial Muslim yang pertama kali mengetengahkan perlunya “ilmu sosial profetik” (ISP), berdasarkan pandangan dunia Islam. Adapun ciri pokok imu sosial profetik yang dikonseptulisasikan oleh Kuntowijoyo, intinya, didasarkan pada dua hal.[10]
Pertama, transformasi sosial dan perubahan. Sebagaimana dikemukakan oleh M. Dwam Rahardjo dalam kata pengantarnya untuk buku paradigma Islam:interpretasi untuk aksi (1991). ISP yang ditawarkan Kunto merupakan alternatif terhadap kondisi status quo teori-teori sosial positivis (yang kuat pengaruhnya di kalangan intelektual dan akademisi Indonesia).ISP tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial. Tetapi juga memberikan interpretasi mengarahkan, serta membawa perubahan bagi pencapaian nilai-nilai yang di anut oleh kaum Muslim sesuai petunjuk Al Qur’an, yakni emansipasi atau humansipasi, liberasi dan transendensi.[11]
Kedua, menjadikan Al Qur’an sebagai paradigma. Al Qur’an, bagi Kuntowijoyo adalah paradigma,. Yang dimaksud “paradigma” oleh Kunto dalam konteks ini adalah sebagaimana dipahami oleh Thomas Kuhn, yakni bahwa realitas sosial diskontruksi oleh mode of thought atau mode inquiry tertentu, yang pada giirannya akan menghasilkan mode of knowing teretntu pula. Dengan mengikuti penegrtian ini, paradigma Al Qur’an bagi Kunto adalah “konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami apa yang dimaksudkan di dalam Al Qur’an itu sendiri.”Ini artinya, Al Qur’an “mengkonstruksi” pengetahuan yang memberikan dasar bagi kita untuk bertindak.Kontruksi ini memungkinkan kita untuk mendesain sistem, termasuk didalamnya sistem ilmu pengetahuan.Dengan demikian, disamping memberikan gambaran aksiologis, paradigma Al Qur’an juga berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis.[12]
Kuntowijoyo   merupakan   sosok   yang   produktif   dan   begitu konsisten  dalam melahirkan  karya-karya  berbobot.  Salah  satu  karya monomentalnya yaitu Paradigma Islam;Interpretasi untuk Aksi (1991) yang menjadi  magnum  opusnya. Buku-buku Dinamika  Sejarah  Umat  Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat(1987), Identitas Politik Umat Islam (1987), Muslim  Tanpa  Masjid (2001), dan Selamat  Tinggal  Mitos,  Selamat Datang   Realitas (2002).[13]
Ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat dari karya-karya Kuntowijoyo.dia dengan sadar tidak memaksakan diri untuk menghindari teori-teori dan metodologi barat yang konvensional. Bahkan dia secara sadar pula meminjam peralatan ilmu dari barat dalam rangka “enrichment” perbendaharaan pemikiran.Tetapi dengan peminjaman itu dia berupaya melakukan sintesis-sintesis teori, bahkan melakukan “twisting” terhadap teori-teori yang dipinjamnya, misalnya mengenai konsep kelas.
Dengan pemahamannya terhadap Islam sebagai agama yang dihayatinya sejak kecil, juga dengan keterlibatannya secara langsung dengan pergerakan islam, dia berusaha mempelajari berbagai peristiwa sejarah dan kejadian-kejadian sosial yang menyangkut umat islam. Peranannya penting , karena dia mengimbangi analisis sarjana non muslim mengenai Islam yang mungkin mengandung penilaian yang sepihak.[14]
Dalam konsep Kuntowijoyo, ilmu-ilmu sosial sekarang sedang mengalami kemandekan.Ilmu-ilmu sosial akademis maupun ilmu-ilmu sosial kritis, fungsinya hanya terhadap memberi penjelasan terhadap gejala-gejala saja.Ini menurut pendapatnya tidak cukup.Ilmu-ilmu sosial, di samping menjelaskan juga harus dapat memberi petunjuk ke arah transformasi. Disinilah Kuntowijoyo bertolak dari ajaran Al Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 110, yaitu petunjuk ke arah tindakan-tindakan emansipasi atau humanisasi, liberasi dan transendensi[15]

D. ilmu sosial profetik Kuntowijoyo
1.      pengertian ilmu sosial profetik
Ilmu sosial profetik dalam pemikiran Kuntowijoyo ini adalah suatu disiplin ilmu sosial yang menjadikan dimensi transedental sebagai landasanya.Ia merupakan alternative di tengah-tengah perkembangan berbagai ilmu pengetahuan yang cendrung bersifat positivis. Selain itu, nilai-nilai transedental dalam ilmu sosial profetik Kuntowijoyo ini mengadopsi suatu ajaran yang besumber dari teks keagamaan otoritatif (yakni alquran dan hadist), yang di jadikan sebagai dasar pijakan proses tranformasi humanisasi, liberasi. Sehingga ia menjadi suatu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai keilahian, yang pada dasarnya keimanan dan tauhid kepada Allah SWT.
Asal-usul Ilmu Sosial Profetik ialah buku Muhammad Iqbal Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Dalam Bab tentang “Jiwa dan Kebudayaan Islam”dengan mengutip kata-kata seorang sufi, Abdul Quddus, Iqbal memaparkan perbedaan kesadaran Rasul (profetik) dengan kesadaran mistik. Abdul Quddus mengatakan (h. 123): “Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku yang mencapai tingkat itu, aku tidak akan kembali lagi”.[16]Jadi, makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi, atau bersifat prediktif, memrakirakan.Profetik di sini dapat kita terjemahkan menjadi “kenabian”.Nabi adalah seorang manusia pilihan yang sadar sepenuhnya dengan tanggung jawab sosial.Ia bekerja kembali dalam lintasan waktu sejarah, hidup dengan realitas sosial kemanusiaan dan melakukan kerja-kerja transformasi sosial. Seorang nabi datang dengan membawa cita-cita perubahan dan semangat revolusioner.
Ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita dan profetik tertentu.Dalam pengertian ini maka ilmu social profetik secara sengaja memuat kandungan nilai dari cita-cita perubahan yang diidamkan masyarakat. Bagi kita itu berarti perubahan yang berdasarkan pada cita- cita Humanisasi/emansipasi, libersi, dan transedensi, suatu cita-cita profetik yang diderivasikan dari misi historis Islam sebagaimana terkandung ayat 110, surat Ali Imran[17].
نَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ      ﴿آل عمران:١۰
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,
Ada empat hal yang tersirat dalam ayat itu, yaitu :
(I) konsep tentang umat terbaik,
(2) aktivisme sejarah,
(3) pentingnya kesadaran,
(4) etika profetik.
Pertama, konsep tentang umat terbaik (the chosen people).Umat Islam menjadi umat terbaik (khaz'ra ummah) dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebut dalam ayat itu.Umat Islam tidak secara otomatis menjadi the chosen people.Ini tentu saja berbeda dengan konsep the chosen people dari Yudaisme, suatu mandat kosong yang menyebabkan rasialisme.Sama-sama konsep tentang the chosen people, Yudaisme menyebabkan rasialisme, konsep umat terbaik dalam Islam justru berupa suatu tantangan untuk bekerja lebih keras, ke arah aktivisme sejarah.[18]
Kedua, aktivisme sejarah.Bekerja di tengah-tengah manusia (uhhrijat linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam ialah keterlibatan umat dalam sejarah.Wadat (tidak kawin), uzlah (mengasingkan diri), dan kerahiban tidak dibenarkan.Demikian pula gerakan mistik yang berlebihan (ngunghurake kadonyan) bukanlah kehendak Islam, karena Islam adalah agama amal.[19]
Ketiga, pentingnya kesadaran.Nilai-nilai ilahiah (ma’ruf, munkar, imam) menjadi tumpuan aktivisme Islam.Peranan kesadaran ini membedakan etika Islam dari etika materialistis. Pandangan kaum Marxis bahwa superstructure (kesadaran) ditentukan oleh structure (basis sosial, kondisi material) bertentangan dengan pandangan islam tentang independensi kesadaran. Demikian pula pandangan yang selalu mengembalikan pada individu (indvidualisme, eksistensisme, liberalisme, dan kapitalisme) bertentangan dengan islam, karena yang menentkan bentuk kesadaran bukan individu tetapi tuhan. Demikian juga segala bentuk sekularisme bertententangan dengan kesadaran ilahiah.[20]
Keempat, etika profetik.Ayat ini berlaku umum, untuk siapa saja, baik individu (orang awam, ahli, super ahli), lembaga (ilmu, universitas, ormas, orsospol), maupun kolektivitas (jamaah, umat, kelompok masyarakat).Ilmu, sebagai pelembagaan dari pengalaman, penelitian, dan pengetahuan, diharuskan melaksanakan ayat ini, yaitu amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi munkar (mencegah kejelekan), dan tu’minana billah (beriman kepada Allah).Ketiganya adalah unsur yang tak terpisahkan dari Ilmu Sosial Profetik. Ilmu Sosial Profetik harus merupakan gerakan yang sadar, yang buahnya akan dipetik dalam waktu lama. Di bawah dominasi ilmu-ilmu sosial empiris-analitis, Ilmu Sosial Profetik ini memang tidak akan populer. Mungkin melalui semacam “gerilya intelektual”, mirip dengan gerakan intelektual underground dari sosiologi akademis di Uni Soviet waktu negeri itu masih di bawah dominasi Marxisme ortodoks. Kalau gerakan intelektual bawah-tanah di Uni Soviet hambatannya fisikal, maka gerakan Ilmu Sosial Profetik hambatannya akan lebih bersifat mental, rasa rendah diri intelektual.[21]
1.                        Unsur-Unsur Ilmu Sosial Profetik
Jadi pilar dari Ilmu Sosial Profetik itu ada tiga, yaitu amar ma‘ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan tu’minuna billah (transendensi) .Liberalisme mementingkan yang pertama, Marxisme yang kedua, dan kebanyakan agama yang ketiga. Ilmu Sosial Profetik mencoba untuk menggabungkan ketiganya, yang satu tidak terpisah dariyang lain. Tema-tema penelitian dapat diambil dari ketiga pilar itu, baik tema yang makro maupun mikro.[22]
a.      Humanisasi (amar ma’ruf) Amar ma’ruf  dalam bahasa sehari-hari dapat berarti apa saja, dari yang sangat individual seperti berdoa, berzikir, dan shalat, sampai yang semi-sosial, seperti menghormati orangtua, menyambung persaudaraan, dan menyantuni anak yatirn, serta yang bersifat kolektif seperti mendirikan clean government, mengusahakan jamsostek, dan membangun sistem social security. Kita akan memakai kata humanisasi. Dalam bahasa Latin humanitas berarti “makhluk manusia”, “kondisi menjadi manusia” Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia.[23]
b.      Liberasi (nahi munkar) Nahi munkar dalam bahasa sehari-hari berarti apa saja, dari mencegah teman mengonsurnsi ecstacy, melarang carok, memberantas judi, menghilangkan lintah darat, sampai membela nasib buruh dan mengusir penjajah. Untuk itu kita akan memakai kata liberasi (bahasa latin liberare berarti memerdekakan ) artinya  pernbebasan , semuanya dengan konotasi yang mempunyaj signifikansi sosial.[24]
c.       Tu’minuna billah dalam Al-Quran yang mempunyai arti khusus, Kata transedensi (bahasa Latintranscendere berarti  naik ke  atas,  bahasa Inggris to transcend ialah  menembus, melewati, melampaui), artinya perjalanan di atas atau di luar. sastra transcendental (sastra yang mencoba mencari realitas spiritual di balik gejala gejala), filsafat transendental (misalnya Kantianisme yang percaya pada pengetahuan apriori di luar pengalaman), gejala supernatural (misalnya ESP [Extra Sensory Perception] dan TM [Transcendental Meditation]), dan istilah teologis (misalnya soal Ketuhanan, makhluk-makhluk gaib). Istilah teologislah yang kita maksudkan dengan transendensi.[25]
E. penutup
Kesimpulan makalah ini adalah menyetujui pendapat Kuntowijoyo yang menyatakan bahwa Islam sangat fokus pada transformasi sosial. Menurut Kuntowijoyo, manusia selalu melakukan perubahan sosial dan Al Quran harus menjadi paradigma pemikiran. Sumber bahan utama yang digunakan dalam makalah ini adalah pemikiran politik dengan paradigma Alquran. Islam masih dapat terus dikembangkan untuk menjadikan perubahan sejarah kehidupan manusia. Agama Islam datang untuk manusia bukan untuk Allah swt.dan penganutnya harus menjunjung tinggi nilai-nilai tauhid yang dikembangkan oleh Islam.


Catatan:
1.       Menulis bukan hanya persoalan menaruh data, tapi memahamkan pembaca. Jadi tolong diperbaiki logika penulisannya.
2.       Kesimpulan tolong diperbaiki.
3.       Pembahasan posisi al-Qur’an dan Ilmu sosial tolong diperbaiki, masih sulit dicerna.
4.       Pembahasan mengenai hadis tolong dihilangkan.














DAFTAR PUSTAKA


Rahardjo, Dawam, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.
Iskandar, Syahrullah, “Studi Alquran dan Integrasi Keilmuwan Studi Kasus Uin Sunan Gunung Djati Bandung”, Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, 2016
Afwadzi, Benny, “Membangun Integrasi Ilmu-Ilmu Sosial Dan Hadis Nabi”, Jurnal Living Hadis, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016, 106.
Rosadisastra, Andi, “Integrasi Ilmu Sosial Dengan Teks Agama Dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an”, Jurnal Mutawatir |Vol.4|No.1| Januari-Juni 2014, 102
Kuntowijoyo. Identitas politik umat Islam, Bandung: Mizan, 1997.

-----------------. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,Bandung: Mizan, 1997.
-----------------. Islam Sebagai Ilmu, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
-----------------. Muslim tanpa masjid, Bandung: mizan, 2001.
Irwanto, “Pendekatan Ilmu Sosial Profetik Dalam Memahami Makna Ayat-Ayat Al-Qur’an”, LiterasiVolume.V, No. 1 Juni2014
Abid Rohman, “Stratifikasi Sosial dalam Alquran”, Jurnal Sosiologi Islam, Vol. 3, No.2


[1] Dawam Rahardjo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2008.

[2]Abid Rohman, “Stratifikasi Sosial dalam Alquran”, Jurnal Sosiologi Islam, Vol. 3, No.2, Oktober 2013, 18
[3]Dawam Rahardjo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
[4]Syahrullah Iskandar, “Studi Alquran dan Integrasi Keilmuwan Studi Kasus Uin Sunan Gunung Djati Bandung”, Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, 1 (Januari 2016): 86-93
[5]Benny Afwadzi, “Membangun Integrasi Ilmu-Ilmu Sosial Dan Hadis Nabi”, Jurnal Living Hadis, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016, 106.
[6]Andi Rosadisastra, “Integrasi Ilmu Sosial Dengan Teks Agama Dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an”, Jurnal Mutawatir |Vol.4|No.1| Januari-Juni 2014, 102
[7]Kuntowijoyo. Identitas politik umat Islam, (Bandung: Mizan, 1997).  Hal  vii

[8]  Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,(Bandung: Mizan,), 1997. Hal xviii
[9]ibid
[10]  Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,(Bandung: Mizan), 1997. Hal xix
[11]ibid
[12]ibid
[13]Irwanto, “Pendekatan Ilmu Sosial Profetik Dalam Memahami Makna Ayat-Ayat Al-Qur’an”, LiterasiVolume.V, No. 1 Juni2014, 3

[14]  Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,(Bandung: Mizan). Hal 17
[15]ibid
[16]Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).  Hal  97
[17]  Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi,(Bandung: Mizan), 1991. Hal 288-289
[18] Kuntowijoyo. OP.Cit,Hal 91
[19]Ibid
[20]Ibid
[21] Ibid, Hal 92
[22] Kuntowijoyo. Muslim tanpa masjid, (Bandung:mizan), 2001. Hal 365
[23] Kuntowijoyo, Op.Cit, Hal 98
[24]Ibid.
[25]Ibid, hal 99