Rabu, 26 April 2017

Takhrij al-Hadits (P-IPS D Semester Genap 2016/2017)




TAKHRIJ AL-HADITS
Nina Indriani, Afifah Lutfiya Alwi dan Ahmad Falihul Umam
Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas D Angkatan 2015
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstract
Hadith is a guideline of human life especially Muslims in all things after the Koran. The science of this thesis is a key to the hadith treasury. Usefulness and benefits are very clear when we know a hadith, but we do not know the nature of the hadith whether sourced from the Prophet or not. The science of thakhrij also introduces methods to arrive at the desired intent either by manual or by computer. Takhrij al-Hadith is very useful to expand one's knowledge about the ins and outs of the books of hadith in various forms and systems of compilation, facilitate a person in returning a hadith that found it into the original sources, so that it will be easy also to know the level of welfare Whether or not the relevant hadith.
Abstrak
Hadits merupakan suatu pedoman hidup manusia khususnya umat islam dalam segala hal setelah al-Quran. Ilmu takhrij ini merupakan suatu kunci perbendaharaan hadits. Kegunaan serta manfaatnya sangat jelas ketika kita mengetahui suatu hadits, tetapi kita tidak mengenal hakikat hadits tersebut apakah bersumber dari Rasululloh saw atau tidak. Ilmu takhrij juga mengenalkan metode-metode untuk sampai kepada maksud yang dikehendaki baik dengan cara manual atau dengan komputer. Takhrij al-Hadits ini berguna sekali untuk memperluas pengetahuan seseorang tentang seluk beluk kitab-kitab hadits dalam berbagai bentuk dan sistem penyusunannya, mempermudah seseorang dalam mengembalikan suatu hadits yang ditemukannya ke dalam sumber-sumber aslinya, sehingga dengan demikian akan mudah pula untuk mengetahui tingkat keshahihan atau tidaknya hadits yang bersangkutan tersebut.
Keyword: Hadits, Sanad, Matan, Rowi
A.    Pendahuluan
Hadits merupakan pedoman hidup manusia setelah alquran, menjadi pegangan yang harus dijaga keabsahannya. Selain sebagai sumber hukum, hadits juga sebagai sumber pengetahuan bagi manusia. Maka tidak dipungkiri bahwa manusia utamanya umat islam sangat memberikan perhatian khusus terhadap hadits, terutama dalam usaha menjaga keasliannya agar tidak musnah.Namun pada saat ini telah banyak manusia yang dengan sesuka hatinya mengubah atau memalsukan hadits yang tidak sesuai dengan hadits yang sesungguhnya baik itu dari segi perawi ataupun yang lainnya. Para pendusta tersebut mengeluarkan pernyataan yang diatasnamakan Rosulullahuntuk mendukung kelompoknya.
Ketakutan dan kekhawatiran manusia khususnya umat islam terjadinya kerancuan dan hilangnya hadits murni, maka terjadilah transisi hadits. Dengan ini maka ilmuan muslim berinisiatif untuk membuat media ataupun metode untuk menguji kebenaran suatu hadits apakah hadis tersebut shohih, hasan, ataupun dho’if. Sehingga dengan metode takhrij ini dapat diketahui keabsahan suatu hadits yang ada.
Walaupun hadist-hadist Nabi telah dibukukan yang penulisannya sudah lengkap baik matan maupun sanadnya, pada kenyataanya dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita temui baik dalam tulisan maupun ceramah hadist-hadist yang tanpa identitas hadits tersebut baik dari segi perawi atau yang lainnya.Terkadang hanya disebutkan potongannya saja tanpa disebutkan rawi pertama serta kolektornya dan terkadang hanya disebutkan rawi pertama serta kolektonya. Hal ini tentu saja tidak begitu meyakinkan kita apalagi kalau hadist yang berkenaan dengan masalah akidah maupun ibadah. Oleh karena itu kita perlu menelusuri hadist tersebut pada kitab sumbernya yang asli agar kita bisa rnengetahui lafal hadist yang dujumpai secara lengkap baik matan maupun sanadnya.Menelusuri hadist pada sumber aslinya tidak bisa dilakukan sembarangan saja tapi perlu metode tersendiri yang sudah dirumuskan oleh para ahli hadist yang disebut dengan Metode takhrij al-hadist.
B.     Pengertian Al-Qur’an
1.      Pengertian Secara Etimologi (Bahasa)
Menurut bahasa takhrij yaitu berasal dari kata kharaja (خرج) yang berarti dari tempatnya, keadaan, terpisah dan kelihatan. Kata al-ikhraj (الاخراج) yang berarti menampakkan atau memperlihatkannya. Dan al-makhraj (المخرج) yang berarti tempat keluar, dan akhrajal-hadis wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadis kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.[1]
-          Menurut Mahmud al-Thahhan: Takhrij adalah (usaha) menunjukkan letak asal hadist pada sumbersumbernya yang asli yang didalamnya telah dicantumkan sanad hadist tersebut (secara lengkap), serta menjelaskan kualitas hadist tersebut jika kolekter memandang perlu.
-          Menurut Nawir Yuslem: Hakekat takhrij adalah penelusuran atau pencaraian hadist pada berbagai kitabhadist sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanad Hadist.
-          Menurut M. Syuhudi Isma’il: Takhrij Alhadist adalah penelusuran atau pencaraian Hadist pada berbagaikitab sumber asli dari hadist yang bersangkutan, yang didalam seumber itu dikemukakan secara lengkap matandan sanad hadist yang bersangkutan.
Dari defenisi-defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa takhrij hadits adalah usaha menemukan matan dansanad hadist secara lengkap dari sumber-sumbernya yang asli yang dari situ akan bisa diketahui kualitas suatu hadist baik secara lansung karena sudah disebutkan oleh kolektornya maupun melalui penelitian selanjutnya.[2]
2.      Pengertian Secara Terminologi (Istilahi)
Menurut istilah takhrij yaitu memberikan tentang tempat hadis pada sumber aslinya dengan penjelasan sanad dan derajatnya ketika diperlukan. Takhrij berarti menunjukkan letak hadits dalam sumber-sumbernya yang asli (primer) di mana diterangkan rangkaian sanadnya kemudian menjelaskan hadits itu bila perlu. Dalam pengertian bahwa menunjukkan suatu hadits berarti menunjukkan sumber-sumber dalam hadits itu diriwayatkan. Misalnya hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari atau Imam Muslim atau lainnya.[3]
Ada pula beberapa definisi takhrij, sebagai berikut:
1.    Takhrij menurut ulama hadits
Menurut beberapa ahli hadits, takhrij memiliki beberapa arti:      
a.       Takhrij persamaan kata ikhroj, yang berarti menampakkan hadits kepada orang lain dengan menyebut tempat pengambilannya. Artinya para tokoh isnadnya yang mentakhrij hadits itu disebutkan. Misal: hadits ini dikeluarkan oleh Bukhori, atau ditakhrij oleh Bukhori. Artinya ia meriwayatkan dan menyebut tempat dikeluarkannya secara independen.
b.      Takhrij terkadang digunakan untuk arti mengeluarkan hadits dan periwayatannya dari isi kitab-kitab. Dalam “ Fathul Mughits” As- Sakhowi mengatakan :
والتخريج: إخراج المحديث الأحاديث من بطون الأجزاء والمشيخات والكتب ونحوها، وسياقها من مرويات نفسه أو بعض شيوخه أو أقرانه أونحو ذلك، والكلام عليها وعزوها لمن رواها من أصحاب الكتب والدواوين...
“Takhrij ialah ahli hadits mengeluarkan hadits dari guru, kitab dan lain sebagainya, dan dikatakan dari periwayatan dirinya, atau dari sebagian gurunya, dari teman-temannya bagi orang yang pernah meriwayatkan dari pengarang kitab tersebut”.
c.       Takhrij terkadang disebut dilalah, artinya penunjuk sumber-sumber asli hadits dan mengacu kepadanya. Yang demikian yang menyebut penyusun yang pernah meriwayatkannya.[4]
2.    Arti Takhrij lain
اءيرادالمؤلف احاديث كتاب ما باء سا نيد لنفسه, يلتقي مع مؤلف الا ضل في شيخه اؤ من فؤ قه
Seorang penyusun mendatangkan beberapa hadis dari sebuah kitab dengan menyebutkan sanadnya sendiri, maka ia bertemu dengan penyusun asal pada syaikhnya (gurunya) atau orang diatasnya.
Contoh definisi takhrij kedua ini seperti perkataan ulama hadis
خذا الحديثاخرجهفلان ؤا ستخرجه
Hadis ini disebutkan oleh si fulan dengan sanadnya sendiri dan bertemu dengan penyusun asal pada syaikhnya (gurunya) atau orang di atasnya. Penyusun kedua disebut Mustakhraj seperti kitab:
مستخرح ابي عؤ انه عل صحيح مسليم
Dari maksud diatas Muslim menyebutkan hadis-hadis dengan sanadnya dalam kitabnya, kemudian Abu Unawah datang mengeluarkan hadis-hadis tersebut dengan menggunakan sanadnya sendiri, Abu Uwanah tersebut bertemu dengan Muslim pada gurunya atau orang diatasnya sampai dengan sahabat.[5]
3.    Rumusan  Mahmud at-Thahhah tentang takhrij adalah:
التخريج هو الدلالة على موضع الحديث فى مصادره الأصلية التي أخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة
“Petunjuk tentang tempat atau letak hadis pada sumber aslinya yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya, kemudian dijelaskan martabat/kedudukannya manakala diperlukan”.[6]
Takhrij dalam bentuk yang sederhana dapat berupa kegiatan mengeluarkan dan meriwayatkan satu hadis dari beberapa kitab hadits, lengkap dengan jalur-jalur sanad yang dimilikinya. Tetapi takhrij yang lebih kompleks akan menelusuri para periwayat yang terdapat dalam rangkaian sanad hadits tersebut, meliputi riwayat hidupnya, guru-guru dan murid-muridnya, kredibilitas periwayatannya, cara-cara tahammul wa al-adanya (cara mendapatkan hadis dari gurunya da cara menyampaikan hadis kepada murid-muridnya), dan sebagainya.[7]
C.    Tujuan Takhrij Al-Hadits
Dengan mempelajari takhrij al-hadits, seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara untuk sampai kepada suatu hadis di dalam sumber-sumbernya yang asli yang pertama kali di susun oleh para ulama yang mengkodifikasi hadis.dengan mengetahui hadis. Dengan mengetahui hadis di dalam bukunya yang asli, sekaligus akan mengetahui sanad-sanadnya akan memudahkan untuk melakukan penelitian sanad dalam rangka untuk mengetahui status dan kualitasnya.
Selanjutnya, mengenai tujuan takhrij al-hadits ini, ‘Abd al-Mahdi, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah menunjukkan sumber hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadis tersebut. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu:
·      Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits, dan
·      Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima (shahih atau hasan) atau ditolak (dla’if).[8]
D.    Manfaat Takhrij Al-Hadits
Takhrij hadits memberikan manfaat yang sangat banyak sekali. Dengan adanya takhrij kita dapat sampai kepada perbendaharaan-perbendaharaan Sunnah Nabi. Tanpa adanya takhrij seseorang tidak mungkin akan dapat mengungkapkannya. Diantara kegunaan takhrij ialah:
1.      Takhrij memperkenalkan sumber-sumber Hadits, kitab-kitab asal dimana suatu hadits berada beserta ulama yang meriwayatkannya.
2.      Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad hadits-hadits melalui kitab-kitab yang ditunjukinya. Semakin banyak kitab-kitab asal yang memuat suatu hadits, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki.
3.      Takhrij dapat memperjelas keadaan sanad. Dengan membandingkan riwayat-riwayat hadits yang banyak itu maka dapat diketahui apakah riwayat tersebut munqathi’, mu’dhal dan lain-lain. Demikian pula dapat diketahui apakah status riwayat tersebut shahih, dha’if dan lain sebagainya.
4.      Takhrij memperjelas hukum hadits dengan banyak riwayat itu. Terkadang kita dapatkan suatu hadits dha’if melalui satu riwayat, namun dengan takhrij kemungkinan kita akan dapati riwayat lain yang shahih. Hadits yang shahih itu akan mengangkat hukum hadits yang dha’if tersebut ke derajat yang lebih tinggi.
5.      Dengan takhrij kita dapat mengetahui pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadits.
6.      Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang samar. Karena terkadang kita dapati seorang perawi yang belum ada kejelasan namanya. Dengan Takhrij kita akan mengetahui kejelasan namaperawi yang sebenarnya secara lengkap.
7.      Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanad.
8.      Takhrij dapat menafikan pemakaian “AN” dalam periwayatan hadits oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas ketersambungan sanadnya, maka periwayatan yang memakai “AN” tadi akan tampak pula ketersambungan sanadnya.
9.      Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.
10.  Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena kemungkinan saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain maka nama perawi itu akan menjadi jelas.
11.  Takhrij dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
12.  Takhrij dapat memperjelas arti kalimat yang asing yang terdapat dalam satu sanad.
13.  Takhrij dapat menghilangkan hukum “Syadz” (kesendirian riwayat yang menyalahi tiwayat tsiqat) yang terdapat pada suatu hadits melalui perbandingan riwayat.
14.  Takhrij dapat membedakan hadits yang mudraj (yang mengalami penyusupan sesuatu ) dari yang lainnya.
15.  Takhrij dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami oleh seorang perawi.
16.  Takhrij dapat mengungkap hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.
17.  Takhrij dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafal dan yang dilakukan dengan ma’na (pengertian) saja.
18.  Takhrij dapat menjelaskan masa dan tempat kejadian timbulnya hadits.
19.  Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadits. Diantara hadits-hadits ada yang timbul karena perilaku seseorang atau kelompok orang. Melalui perbandingan sanad-sanad yang ada maka “asbab al-wurud” dalam adits tersebut akan dapat diketahui dengan jelas.
20.  Takhrij dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan percetakan dengan melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada.[9]
-          Secara simpel, melalui takhrij kita dapat:
1.      Mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits.
2.      Mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits.
E.     Metode Takhrij
1.      Metode pertama (Menurut Perawi Pertama)
Takhrij dalam bentuk ini berupa penelusuran penukilan dan pengambilan hadits dari berbagai kitab/diwan hadits (mashadie al-Asliyah), sehingga dapat teridentifikasi hadits-hadits tertentu yang dikehendaki lengkap dengan rawi dan sandanya masing-masing.
Berbagai cara pentakhrijan hadits dala arti Naql/Akdzu yang telah di kemukakan oleh Mahmud at-Tahhan yang menyebutkan lima teknik (thariqoh) dalam menggunakan metode takhrij sebagai an-Naql, di antaranya:
1.  Takhrij dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits.
2.  Takhrij dengan mengetahui lafadz asal matan hadits.
3.  Takhrij denagn cara mengetahui lafadz mata hadits yang kurang dikenal.
4.  Takhrij dengan mengetahui tama atau pokok bahasan hadits.
5.  Takhrij dengan mengetahui sanad dan matan hadits.
6. Takhrij dengan  jalan melalui pengetahuan (mengetahui) tentang perawi hadits.[10]
Metode ini hanya dipergunakan apabila nama sahabat tercantum pada hadits yang akan ditakhrij. Apabila nama shahabat tersebut tidak tercantum dalam hadits itu dan tidak diusahakan untuk mengetahuinya, maka metode ini tidak dapat diguanakan.Apabila nama shahabat tercantum pada hadits tersebut, atau tidak tercantum tetapi dapat diketahui dengan cara tertnetu, maka dapat digunakan tiga macam kitab:
Pertama, Musnad-Musnad. المسانيد
Kedua, Mu’jam-Mu’jam.          المعاجم
Ketiga, kitab-kitab Al- Athrofالاطراف[11]
Ø  Kelebihan
1.      Metode ini memperpendek masa proses takhrij dengan diperkenalkannya ulama hadits yang meriwayatkannya beserta kitab-kitabnya.
2.      Metode ini banyak memberikan manfaat diantaranya memberikan kesempatan melakukan persanad.
Ø  Kekurangan
1.      Metode ini tidak dapat digunakan dengan baik tanpa mengetahui terlebih dahulu perawi pertama hadits yang kita maksud.
2.      Terdapat kesulitan-kesulitan mencari hadits diantara yang tertera di bawah setiap perawi pertamanya.[12]
2.      Metode kedua (Takhrij dengan mengetahui lafadz pertama matan hadist)
Penelusuran hadits melalui metode ini dilakukan terhadap awal katadari matan hadis. Seorang mukharrij yang menggunakan metode ini haruslah terlebih dahulumengetahui secara pasti lafadz pertama dari hadis yang akan di takhrijnya, setelah itu barulah dia melihat huruf pertamanya pada kitab-kitab Takhrij yang disusun berdasarkan metode ini, dan huruf kedua, ketiga, dan seterusnya.
Cara ini dapat dibantu dengan : Kitab-kitab yang beisi tentang hadist-hsdist yang dikenal oleh orang banyak misalnya :
·         Addurarul muntatsirah fi‟il alhaaditsilmusytaharah karya As-Syuyuthi; Al-Laali Al-mantsuurah fil-Ahaaditsil-masyhurah karya ibnu Hajar ; Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minal-Ahaditsil-Musytahirah
·         Alsinah karya as-shakhawi ; Tamyiizuth-Thayyibminal-Khabits fiima yaduru
·         Alsinatin-naas karya Al-ujluni . kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus , misalnya : Al-
·         Jami‟ush Sahaghiir minal-Ahaditsil-Basyir An-Nadzir karya As-Suyuthi.Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab tertenyu, misalnya :Miftah Ash-Shahihain karya At-Tauqadi; Miftah At-Tartiibi Li Ahaaditsi Tarikh Al-Khatib karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari; Al-Bughiyyah fii Tartibi Ahaditsi Shahih Muslim karya Muhammad Faud Abdul-baqi; Miftah Muwaththa Malik karya Muhammad Faud Abdul-Baqi.[13]
Ø  Kelebihan
Dengan menggunakan metode ini kemungkinan besar kita dengan cepat menemukan hadits-hadits yang dimaksud.
Ø  Kekurangan
Bila terdapat kelainan lafal pertama tersebut sedikitpun akan berakibat sulit menemukan hadits.[14]
3.      Metode ketiga ( Takhrij melalui salah satu lafadz yang terdapat dalam matan hadist)
Metode ini berdasarkan kepada kata-kata yang terdapat dalam matan hadist, baik berupa isim (kata benda) atau fi’il (kata kerja). Huruf-huruf tidak digunakan dalam metode ini. Para penyusun kitab takhrij hadits menitik beratkan peletakan hadits-haditsnya menurut lafadz-lafadz yang asing. Semakin asing (gharib) suatu kata, maka pencarian hadits akan semakin mudahdan efisien.
Ø  Kelebihan
3.      Metode ini mempercepat pencarian hadits-hadits.
4.      Para penyusun kitab-kitab takhrij dengan menggunakan metode ini membatasi hadits-haditsnya dalam beberapa kitab induk dengan menyebutkan nama kitab, juz, bab dan halaman.
5.      Memungkinkan pencarian hadits melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadits.[15]
Ø  Kekurangan
1.      Keharusan memiliki kemampuan bahasa arab beserta perangkat ilmu-ilmunya yang memadai. Karena metode ini menuntut untuk mengembalikan setiap kata-kata kuncinya kepada kata dasarnya.
2.      Metode ini tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat.
3.      Terkadang suatu hadits tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata yang lain.[16]
4.      Metode keempat ( Takhrij Melalui Tema Hadist)
Metode ini di pakai oleh orang yang mempunyai ketajaman ilmu (dzauq ilmi) yang memungkinkannya mendapatkan topik hadist atau menentukan letaknya apabila hadist tersebut memiliki artian yang lebih lar dan rumit.metode ini memrlukan beberapa kitab penunjang yang tersusun berdasarkan bab-bab dan tema-tema.[17]
Berikut klasifikasi kitab-kitab yang di tulis dengan metode ini :
1.      Kitab-kitab yang berisi tentang seluruh tema agama, yaitu kitab-kitab Al-Jami’ berikut dengan mustakhraj dan mustadraknya, Al-Ma’ajim, Al-Zawaid, dan kitab Miftah Kunuz Al-Sunnah.
2.      Kitab-kitab yang berisi sebagian saja tentang keagamaan, yaitu : kitab Sunan, Mushanaf, Muwaththa, dan Mustkhrajat ‘ala Al-Sunan.
3.      Kitab-kitab yang bertemakan aspek yang bersifat tidak umum dalam kajian keagamaan, yaitu kitab yang hanya berkaitan tentang hukum saja, akhlak saja, dan sebagainya, yaitu kitab: Al-Ahkam li ‘Abd al-Ghani ibn Abd al-Wahid al-Muqshidi.[18]
Ø  Kelebihan
1.      Metode ini tidak membutuhkan pengetahuan-pengetahuan lain di luar hadits, seperti keabsahan lafadz pertamanya.
2.      Metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadits pada diri peneliti.
3.      Metode ini juga memperkenalkan kepada peneliti maksud hadits yang dicarinya dan hadits-hadits yang senada dengannya.[19]
Ø  Kekurangan
1.      Terkadang kandunga hadits sulit disimpulkan oleh seorang peneliti hingga tidak dapat menentukan temanya.
2.      Terkadang pemahaman peneliti tidak sesuai dengan pemahaman penyusun kitab.[20]
5.      Metode kelima (Takhrij melalui status/klasifikasi hadist)
Metode ini memperkenalkan suatu upaya yangdilakukan para ulama hadist dalam menyusun kitab-kitab hadist, yaitu menghimpun atau mengumpulkan hadist sesuai statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadist, seperti hadist-hadist qudsi, hadist masyhur, hadist mursal, dan lainnya. Kelebihan metodeini dapat di lihat dari segi mudahnya proses takhrij.hal ini karena sebagian besra dari hadist-hadist yang dimuat dalam kitab tersebut berdasarkan pada sifat-sifat hadist yang sedikit, sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. Namun kitab hadist yang di susun dengan metode ini hanya sedikit, yang hal tersebut merupakan kelemahan yang di miliki oleh metode takhrij dangan melihat status hadist ini.
Kitab-kitab yang disusun berdasarkan metode ini adalah :
·         Al-Azhar al-Mutanatsirah fi al-Akhbar al-Mutawatirah karya Al-Suyuthi.
·         Al-Ittihafat al-Sanniyat, fi al-Hadist al-Qudsuyyah karya Al-Madani.
·         Al-Marasil karya Abu Daud.[21]
Ø  Kelebihan
Dapat memudahkan proses takhrij, karena sebagian besar hadits-hadits yang dimuat dalam suatu karya tulis berdasarkan sifat-sifat hadits sangat tinggi, sehingga tidak memerlukan pemikiran yang lebih rumit.
Ø  Kekurangan
Metode ini cakupannya sangat terbatas karena sedikitnya hadits-hadits yang dimuat tersebut. Hal ini akan tampak lebih jelas lagi ketika berbicara mengenai masing-masing kitabnya.[22]
F.     Metode Takhrij dengan Komputer
Saat ini prediksi dan harapan Syuhudi Isma’i1 sudah menjadi kenyataantelah mampu memprogramkanberbagai hadist Nabi baik dari segi lafal matan, sanad, kualitas dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya,niscaya pengkajian hadist Nabi akan bertambah mudah dan praktis. Berbagai CDyang memuat hadist-hadist Nabi sudah tersebar luas. Menurut Syuhudi Isma’il, penggunaanCD dalam mentakhrij dan meneliti hadist begitu cepat dan praktis dibanding cara biasa dengan perangkatkamus-kamus dan kitab-kitab hadist.
Diantara letak kepraktisan dan kecepatanya adalah:
1.      Satu CD telah memuat banyak kitab hadist (ada yang memuat 9 kitab induk ada yang disampingmemuat 9 kitab induk tersebut juga memuat berbagai musnad lain luar a1-Kutub al-Tis’ah). Selain itu jugamemuat kitabu al-Rijal serta ilmu musthalah al-hadist.
2.      Dalam mentakhrij terutama dengan melalui lafal hadits, setelah ditentukan lafal mana yang dijadikan acuanmaka tidak perlu membuka kamus atau mu’jam Hadist, tapi cukup di-klick menu ( ) lalu tuliskanlafal acuan pada kolam yang tersedia kemudian klik menu ( ), lalu akan keluar potongan-potongan hadistserta nama kolektornya.
3.      Untuk melihat matan dan sanad lengkap hadist tersebut tidak perlu membuka kitab induk tapi cukup mengklickmenu ( )
4.      Untuk melihat semua matan Hadist yang terdapat dalam berbagai kitab induk, cukup dengan meng-klickmenu ( ) setelah itu menu ( ) dan kemudian menu ( )
5.      Pada menu ( ) telah tersedia bagan sanad lengkap dengan riwayat masing-masing[23]
G.    Penutup
Takhrij ini sebenarnya suatu usaha ulama hadits untuk mengembalikan hadits kepada sumbernya yang asli dan merupakan hasil sebuah usaha keras yang dilakukan oleh ulama hadits untuk menjaga keaslian dan kebenarannya. Dengan ini ajaran Islam yang menjadikan hadits sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an agar dapat terus terjaga hingga akhir zaman. Dalam dunia yang semakin maju ini berbagai alat yang digunakan dalam penelitian hadits, bertambah maju pula dengan penggunaan alat elektronik seperti aplikasi software mausuat al-Hadith al-sharif:al-kutub al-tis’ah.Secara singkat takhrij hadis dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadis serta mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadis.
Di dalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu;
1.      Takhrij melalui lafaz pertama matan hadits.
2.      Takhrij melalui kata-kata dalam matan hadits.
3.      Takhrij berdasarkan perawi sahabat.
4.      Takhrij berdasarkan tema hadits.
5.      Takhrij berdasarkan status hadits.


















Daftar Pustaka
Bahrudin.Takhrij Sebagai Metode Penelusuran Kualitas Hadis Ahad:Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 4 No. 13 Januari-Juni 2009.
Damanhuri, Penelusuran Akar Hadits:Jurnal Ilmiah PeuradeunVol. 2, No. 3, September 2014.
Majid, Abdul Khon.2008.Ulumul Hadis.Jakarta: AMZAH.
Muhammad, Abu Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi.1994.Metode Takhrij Hadits. Diterjemahkan oleh: Agil Husin Munawwar.Semarang: Dina Utama.
Quraish, M. Shihab.1995.Dasar-dasar ilmu takhrij dan Studi Sanad.Semarang: Dina Utama.
Pamil, Jon.Takhrij Hadist: Langkah Awal Penelitian Hadist:Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 37, No. 1 Januari-Juni 2012.
Sahrani, Sohari.2010.Ulumul Hadits.Jakarta:Ghalia Indonesia.
Smeer, Zeid.2008.Ulumul Hadis.Malang:UIN Malang Press.
Soetari, Endang.1994.Ilmu Hadits (Kajian dan Riwayah).Bandung:CV Mimbar Pustaka.
Suhuf Subhan, Kritik Sanad:Al-Majaalis Jurnal Dirasat Islamiyah Volume 1, No. 1, November 2013.

Catatan:
Makalah ini tidak mencakup penjelasan tentang praktik takhrij hadis dengan kitab mu’jam al-mufahras dan CD Mausu’ah. Padahal itu bagian penting dalam presentasi di kelas.



[1] Zeid Smeer, Ulumul Hadis, (Malang: UIN malang press, 2008), hlm. 171.
[2]Jon Pamil, Takhrij Hadist: Langkah Awal Penelitian Hadist:Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 37, No. 1 Januari-Juni 2012,hlm. 53.
[3]Damanhuri, Penelusuran Akar Hadits:Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 2, No. 3, September 2014,hlm. 109
[4]M. Quraish Shihab, Dasar-dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, (Semarang: Dina Utama, 1995), hal. 18.
[5]Abdul Majid Khon,Ulumul Hadis,(Jakarta: AMZAH, 2008), hlm. 115.
[6]Suhuf Subhan, Kritik Sanad:Al-Majaalis Jurnal Dirasat Islamiyah Volume 1, No. 1, November 2013,hlm. 36.
[7]Bahrudin, Takhrij Sebagai Metode Penelusuran Kualitas Hadis Ahad:Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 4 No. 13 Januari-Juni 2009,hlm. 446.
[8]Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 190.
[9]Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi,Metode Takhrij Hadits, Diterj. oleh: Agil Husin Munawwar.(Semarang: Dina Utama1994), hlm. 5.
[10]Endang Soetari, Ilmu Hadits(Kajian dan Riwayah), (CV. Mimbar Pustaka, Bandung, 1994), hlm. 155.
[11]Ibid., hlm 156.
[12]Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi,Metode Takhrij Hadits, Diterj. oleh: Agil Husin Munawwar.(Semarang: Dina Utama,1994), hlm. 78.
[13]Endang Soetari, Ilmu Hadits (Kajian dan Riwayah), (Bandung: CV. Mimbar Pustaka,1994), hlm. 158.
[14]Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi,Metode Takhrij Hadits, Diterj. oleh: Agil Husin Munawwar.(Semarang: Dina Utama, 1994), hlm, 17.
[15]Ibid.,hlm, 60.
[16]Ibid., hlm, 61.
[17]M. Quraish Shihab,Dasar-dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad,(Semarang:Dina Utama, 1995), hlm. 87.
[18]Endang Soetari, Ilmu Hadits (Kajian dan Riwayah),(Bandung:CV. Mimbar Pustaka, 1994), hlm. 161.
[19]Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi,Metode Takhrij Hadits, Diterj. oleh: Agil Husin Munawwar.(Semarang: Dina Utama1994), hlm, 122.
[20]Ibid.,hlm. 123.
[21]Sohari Sahrani,Ulumul Hadits, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 202.
[22]Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi,Metode Takhrij Hadits, Diterj. oleh: Agil Husin Munawwar.(Semarang: Dina Utama1994), hlm. 195.
[23]Jon Pamil,Takhrij Hadist: Langkah Awal Penelitian HadistJurnal Pemikiran Islam; Vol. 37, No. 1 Januari-Juni 2012,hlm.62.